Rabu, 08 Oktober 2008

KEBIJAKAN MONETER INDONESIA

I PENDAHULUAN
Tuliasn ini adalah ringkasan dari Laporan Kebijakan Kebijakan Moneter triwulan II yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Ada beberapa ilustrasi yang disampaikan dalam laporan ini, yaitu:
1. Ilustrasi mengenai perkembangan makroekonomi terkini
2. Ilustrasi tentang perkembangan dan kebijakan moeter triwulan II-2008
3. Outlook perekonomian yang memuat tentang asumsi dan skenario yang digunakan untuk dasar kebijakan, prospek pertumbuhan ekonomi, prakiraan inflasi dan faktor risiko
4. Respon kebijakan moneter triwulan II-2008.

Walaupun menghadapi gejolak eksternal maupun domestik yang sangat besar, perekonomian Indonesia pada triwulan II-2008 diperkirakan masih tumbuh cukup tinggi (6%-yoy) walaupun lebih rendah dari triwulan sebelumnya (6,3%-yoy). Faktor pendorong utama dari pertumbuhan tersebut masih didominasi oleh permintaan domestik.

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat surplus diiringi dengan cadangan devisa yang meningkat. Kondisi fundamental ekonomi yang positif ini mendorong nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil. Namun seiring dengan pertumbuhan ekonomi, impor bahan baku dan barang-barang modal untuk keperluan industri domestik juga mengalami peningkatan.

Dalam tahun 2008 perekonomian Indonesia diperkirakan masih menghadapi berbagai risiko baik yang bersumber dari gejolak eksternal maupun domestik, terutama yang berkaitan dengan kenaikan harga-harga komoditas internasional, seperti harga minyak, bahan pangan dan gejolak dipasar finansial global. Gejolak-gejolak tersebut ditambah dengan kemungkinan pengurangan subsidi BBM yang dilakukan Pemerintah akan semakin memperberat tekanan inflasi.

Dalam kaitan ini, Bank Indonesia akan tetap melaksanakan kebijakan moneter secara terukur dan hati-hati. Prioritas utama adalah untuk menjaga stabilitas perekonomian, sistem keuangan Indonesia, dan prospek pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu Bank Indonesia mengambil kebijakan untuk meningkatkan BI Rate dalam rangka mencegah dampak dari kenaikan harga BBM dan Bahan pangan terhadap kenaikan harga barang-barang lain dan ekspektasi inflasi masyarakat.



II ISI

Perkembangan Makroekonomi terkini. Selama triwulan II-2008 perekonomian Indonesia menghadapi tekanan berat, baik sebagai akibat gejolak eksternal maupun kondisi domestik itu sendiri. Walaupun demikian pertumbuhan ekonomi pada triwulan tersebut masih relatif tinggi, yaitu sekitar 6,0% (yoy), sementara untuk keseluruhan tahun 2008 juga diprakirakan berada pada kisaran 6,3% (yoy). Masih tingginya pertumbuhan tersebut disebabkan oleh masih kuatnya ekspor dan investasi serta masih tingginya konsumsi domestik. Tingginya konsumsi masyarakat sejalan dengan perilaku konsumen yang diperkirakan telah mengantisipasi ekspektasi kenaikan harga serta didukung oleh ketersediaan pembiayaan perbankan.

Volume ekspor pada Januari-Mei 2008 mencatat pertumbuhan yang tinggi mencapai 30,03% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2007. Sementara, kinerja ekspor itu sendiri juga di nilai masih baik seiring dengan tingginya pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain impor bahan baku dan barang modal untuk keperluan ekspor dan investasi menunjukkan peningkatan. Kenaikan nilai impor ini dalam jangka waktu pendek akan mengurangi surplus pada NPI. Namun ke depan, dengan tetap solidnya pertumbuhan ekonomi, perkembangan NPI pada tahun 2008 diharapkan tetap mencatat surplus yang tinggi.

Sementara itu, perkembangan transaksi modal dan finansial diwarnai oleh penerbitan obligasi valas Pemerintah serta tetap terjaganya minat investor asing terhadap aset domestik. Secara keseluruhan, kinerja NPI pada triwulan II-2008 diprakirakan masih surplus. Dengan kinerja NPI tersebut, indikator keretanan eksternal pada triwulan II-2008 membaik dan realisasi cadangan devisa sampai dengan akhir triwulan II-2008 mancapai USD 59,5 miliar atau setara dengan 5,1 bulan impor dan utang luar negeri Pemerintah.

Dari sisi penawaran agregat dilaporkan hampir seluruh sektor ekonomi mengalami penurunan pertumbuhan, kecuali sektor pertambangan. Walaupun demikian, ternyata masih ada beberapa sektor yang mempunyai tingkat pertumbuhan tinggi, yaitu sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor listrik, gas dan air bersih dan sektor bangunan.

Perkembangan dan kebijakan moneter triwulan II-2008. Kinerja sektor moneter yang cukup baik tersebut, diiringi oleh upaya BI untuk menjaga pergerakan nilai tukar rupiah mendorong stabilitas nilai tukar rupiah selama triwulan II-2008. Rata-rata nilai tukar rupiah pada triwulan II-2008 mancapai Rp 9.259, relatif stabil dibandingkan rata-rata triwulan I-2008 yang mencapai Rp 9.258. Sejalan dengan pergerakan nilai tukar rupiah yang stabil, volatilitas nilai tukar rupiah juga mengalami perununan, cari 1,42% pada triwulan I-2008 manjadi 0,61% pada triwulan II-2008.

Sementara itu, kenaikan harga BBM pada bulan Mei 2008 dan harga komoditas internasional telah mendorong laju inflasi IHK pada akhir triwulan II-2008 meningkat tajam. Laju inflasi tahunan pada akhir triwulan II-2008 mancapai 11,03% akibat kenaikan administered price dan volatile food. Peningkatan inflasi administered price terutama terkait dengan kenaikan harga BBM dan kelangkaan komoditas energi. Sementara itu, meningkatnya inflasi volatile food terkait dengan dampak kenaikan harga pangan internasional.

Guna meredam tekanan inflasi dan menjaga ekspektasi inflasi, Bank Indonesia mengambil kebijakan untuk menaikan suku bunga BI Rate sebesar 25bp menjadi 8,50% pada triwulan II-2008. Langkah Bank Indonesia ini direspon positif oleh pasar, dimana kenaikan BI Rate ini hanya diikuti oleh kenaikan suku bunga deposito, sementara suku bunga kredit masih menunjukkan penurunan.

Outlook Perekonomian.

Gejolak-gejolak eksternal yang terjadi pada tahun 2008 diperkirakan menimbulkan dua encaman besar bagi perekonomian Indonesia, yaitu peningkatan laja inflasi dan melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional. Sumber utama dari inflasi yang terjadi selama tahun 2008 diperkirakan berasal dari imported inflation, administered inflation dan dampak lanjutan dari kenaikan harga BBM bersubsidi. Sedangkan melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional terutama disebabkan oleh melambatnya ekonomi dunia (tahun 2008 diperkirakan hanya sekitar 3,7%), sebagai akibat melambatnya konsumsi rumah tangga, jatuhnya keyakinan konsumen, ketatnya pasar tenaga kerja dan persyaratan kredit, serta semakin melambatnya belanja modal yang terjadi di negara-negara maju.

Walaupun Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2008 melambat, namun diperkirakan masih cukup tinggi, yaitu sebesar 6%. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kinerja ekspor dan investasi, ditengah kemungkinan melambatnya konsumsi swasta sebagai akibat kenaikkan harga BBM bersubsidi pada akhir Mei 2008. Konsumsi Rumah Tangga pada tahun 2008 diperkirakan tumbuh sebesar 5%.

Pencapaian kinerja ekonomi yang positif pada triwulan II-2008 tersebut, diyakini masih akan berlanjut hingga akhir tahun 2008. Konsumsi dan ekspor masih menjadi faktor penggerak pertumbuhan ekonomi. Harga komoditas internasional yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang yang masih cukup kuat diprakirakan menjadi insentif bagi kenaikan ekspor. Prospek ekspor yang cukup cerah ini pada gilirannya akan mendorong kegiatan investasi.

Namun, masih terdapat beberapa ancaman yang perlu dicermati untuk mempertahankan stabilitas ekonomi dan tidak manghambat pertumbuhan perekonomian ke depan. Ancaman tersebut antara lain, belum berakhirnya gejolak di pasar keuangan global dan masih tingginya harga komoditas internasional, terutama harga minyak dan harga pangan. Untuk itu, sinergi kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi semakin penting guna mengurangi dampak negatif gejolak eksternal terhadap prospek perekonomian.

Ke depan, Bank Indonesia akan tetap melaksanakan kebijakan moneter yang lebih hati-hati dan terukur, berdasarkan berbagai dinamika yang timbukl dalam perekonomian nasional. Keputusan Bank Indonesia untuk menaikkan BI Rate pada tingkat 8,75% pada awal Juli 2008 didasari atas pertimbangan secara seksama akan risiko dari gejolak-gejolak eksternal terhadap stabilitas perekonomian, sistem keuangan serta prospek pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia juga akan menggunakan instrumen-instrumen kebijakan yang ada secara fleksibel dan terukur untuk mencapai sasaran inflasi tahun 2009 pada kisaran 6,5%-7,5%. Dalam kaitan ini, Bank Indonesia akan berkoordinasi secara intensif dengan Pemerintah untuk meminimalisir dampak gejolak eksternal sehingga momentum pertumbuhan ekonomi dapat terpelihara.


III PENUTUP

Selama triwulan II-2008 perekonomian Indoesia menghadapi tekanan yang sangat kuat, baik yang timbul dari gejolak eksternal, maupun kondisi ekonomi domestik itu sendiri. Gejolak eksternal terutama kenaikan harga-harga komoditi internasional terutama minyak dan bahan pangan, ternyata menimbulkan tekanan inflasi yang cukup besar pada perekonomian Indonesia. Tekanan tersebut diperparah dengan semakin meningkatnya konsumsi BBM dalam negeri dan semakin lemahnya kemampuan Pemerintah untuk memberikan subsidi BBM. Demikian juga beberapa kasus yang terjadi di Amerika Serikat ternyata membawa dampak pada semakin melemahnya kondisi ekonomi dari negara-negara maju. Kondisi ini diperkirakan akan mempengaruhi ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2008 ini diperkirakan akan cenderung melambat.

Ke depan ekonomi Indonesia masih akan menghadapi risiko tinggi yang berasal dari perkembangan eksternal, terutama kenaikan harga-haraga komoditi dunia dan gejolak pasar finansial global. Risiko eksternal tersebut akan berdampak negatif pada kinerja NPI, kesinambungan fiskal, prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi.
Menghadapi kondisi ini bank Indonesia melakukan kebijakan moneter yang cenderung hati-hati. Kebijakan tersebut di samping diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi, juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Pada awal bulan Juli 2008 Bank Indonesia telah meningkatkan BI Rate menjadi 8,75 persen, dalam rangka mengerem peningkatan laju inflasi sebagai akibat kenaikan harga BBM dan komoditi-komoditi internasional yang lain. Kebijakan meningkatkan BI Rate juga diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai Rupiah dan menahan pelemahan Rupiah terhadap mata uang asing, khususnya US Dollar.

Tekanan inflasi, pelemahan pertumbuhan ekonomi nasional dan nilai tukar Rupiah tidak hanya dapat ditanggulangi oleh kebjakan moneter saja. Diperlukan sinergi antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Oleh karena itu koordinasi intensif antara Bank Indonesia dengan Departemen Keuangan sangat diperlukan untuk dapat menghasilkan kebijakan-kebijakan yang sinergis tersebut.